Bukan Sekadar Teknologi, Dosen UMB Dampingi Guru SMP Negeri 9 Lebong “Berteman” dengan AI
Lebong - Ketika teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin dekat dengan dunia pendidikan, guru tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Guru juga perlu memahami bagaimana memanfaatkannya secara bijak, kreatif, dan tetap menempatkan peran pendidik sebagai pusat pembelajaran. Semangat itulah yang dibawa tim dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMP Negeri 9 Lebong, Kabupaten Lebong, Bengkulu melalui program “Pelatihan Literasi Digital dan Pemanfaatan AI sebagai Asisten Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas Pengajaran Guru SMP.”
Kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan apa itu AI. Para guru diajak untuk mencoba langsung bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan mereka, mulai dari merancang pembelajaran, membuat bahan ajar, menyusun soal dan asesmen, hingga melakukan refleksi pembelajaran. Dengan pendekatan praktik, AI ditempatkan sebagai “asisten” bagi guru, bukan pengganti guru.
Tim pengabdian UMB diketuai oleh Romadhona Kusuma Yudha dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan anggota Rahmat Jumri dari Program Studi Pendidikan Matematika dan Ummi Kalsum dari Program Studi Pendidikan Ekonomi. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa sebagai pendamping pelatihan dan pengumpulan data di lapangan.
Kehadiran tim UMB menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan guru SMP Negeri 9 Lebong yang selama ini masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan teknologi digital untuk pembelajaran. Persoalannya bukan semata-mata soal ketersediaan perangkat. Sekolah telah memiliki akses internet dan sebagian besar guru juga telah memiliki laptop maupun telepon pintar. Tantangan utamanya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung proses belajar mengajar.
Karena itu, pelatihan dirancang agar guru tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga belajar sambil mencoba. Guru dikenalkan dengan literasi digital, etika penggunaan teknologi, keamanan data, platform pembelajaran digital, hingga pemanfaatan AI secara kontekstual sesuai kebutuhan pembelajaran.
Salah satu pesan penting dalam kegiatan ini adalah bahwa kecerdasan buatan tidak dimaksudkan untuk mengambil alih peran guru. Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan untuk meringankan pekerjaan teknis sehingga guru memiliki lebih banyak ruang untuk fokus pada hal yang paling penting: memahami peserta didik dan menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu guru menyusun modul ajar, mengembangkan bahan ajar digital, membuat soal, menyusun rubrik penilaian, hingga membantu proses refleksi pembelajaran.
Model pemanfaatannya pun sederhana:
Guru → Platform Digital → AI → Produk Pembelajaran → Pembelajaran di Kelas.
Dengan pola tersebut, guru tetap menjadi pengambil keputusan utama. Teknologi hanya menjadi alat bantu untuk mempercepat, memperkaya, dan mengembangkan ide pembelajaran.
Menariknya, program ini tidak dirancang sebagai kegiatan yang selesai begitu pelatihan berakhir. Guru akan mendapatkan pendampingan dalam menerapkan AI pada rancangan pembelajaran masing-masing, memvalidasi media yang dibuat, melakukan micro-teaching, hingga mengevaluasi dampak penggunaan AI terhadap pembelajaran.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari apakah guru mampu menggunakan aplikasi AI, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut benar-benar menghasilkan perubahan dalam praktik pembelajaran.
Bagi UMB, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital. Sementara bagi guru SMP Negeri 9 Lebong, pelatihan ini menjadi ruang untuk mencoba cara baru dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih kreatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan sentuhan manusia. AI boleh menjadi asisten, tetapi guru tetap menjadi pengarah utama perjalanan belajar peserta didik. Melalui kolaborasi dosen, mahasiswa, dan sekolah, UMB berharap pemanfaatan literasi digital dan AI dapat terus berkembang menjadi budaya pembelajaran yang inovatif dan berkelanjutan di SMP Negeri 9 Lebong.
Dosen UMB Dampingi Guru SMP Negeri 9 Lebong “Berteman” dengan AI

Facebook comments