Skip to main content
x
Kota Plt Sekjen Kemenag RI Tekankan 3 Komponen Utama Pendidikan

Plt Sekjen Kemenag RI Tekankan 3 Komponen Utama Pendidikan

Lensabengkulu.com  - Pelaksana tugas (Plt) Sekjen Kementerian Agama (Kemenag) RI, yang juga menjabat sebagai Irjen Kemenag RI Nur Kholis Setiawan, menekankan tiga komponen utama dalam meningkatkan kualitas Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Kualitas pendidikan di kemenag setidaknya harus dibangun oleh tiga komponen utama yaitu aktor pendidikan, lingkungan pendidikan dan metode pembelajaran, katanya saat memberikan pembinaan di Aula Kanwil Kemenag Bengkulu, Rabu (26/09/2018). 

Pembinaan yang dilaksanakan disela-sela kegiatan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tersebut dihadiri oleh para pejabat Kementerian Agama dari berbagai provinsi di Indonesia serta ASN Kanwil Kemenag Bengkulu.

Nur Kholis mengatakan tiga komponen pendidikan tersebut harus segera diimplementasikan untuk manghadapi berbagai tantangan pendidikan terutama yang berkaitan dengan generasi milenial yang lebih mengandalkan smartphone dan teknologi informasi sebagai sumber informasinya.

Komponen pertama yaitu aktor atau tenaga pendidik yang harus tegas dan fokus dalam menjalankan tugas pendidikan." Kepala madrasah ya harus fokus ngurusi madrasah dan kalau guru harus terus meningkatkan kemampuan mengajarnya khususnya menghadapi trasformasi teknologi informasi," jelasnya. 

Kedua, lingkungan pendidikan di Lembaga Pendidikan Kemenag harus didamis, jangan hanya dibatasi oleh ruang kelas maupun tempat belajar. "kita harus mencoba hal-hal baru yang sesuai dengan zaman misalnya belajar di alam terbuka, bersatu dengan alam serta berselancar didunia maya," tambahnya. 

Yang ketiga adalah metode pembelajaran yang harus tepat, kalau di Kementerian Agama telah menetapkan 5 mata pelajaran keagamaan yaitu Al-Quran Hadis, Fiqih, Aqidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab. 

 "Tidak perlu kita berubah-ubah kurikulum, saya kira kemenag sudah tepat dengan menetapkan 5 mata pelajaran keagamaan sebagai ciri khas pendidikan madrasah yang isyaallah akan menjadi bekal bagi siswa/siswi madrasah menghadapi era digital," kata mantan guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berhasil menyandang gelar profesor di usia 38 tahun ini. (jaja)

Facebook comments