Skip to main content
x
. PWNU Bengkulu Gelar Bahtsul Masail Wilayah ke-IV

Ulama dan Akademisi Se-Bengkulu Bahas Zakat Sawit dalam BMW ke-IV PWNU

Bengkulu Utara – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bengkulu kembali menggelar Bahtsul Masail Wilayah (BMW) ke-IV sebagai forum pengkajian dan perumusan hukum Islam terhadap berbagai persoalan aktual yang berkembang di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Pondok Pesantren An-Nahdloh, Kabupaten Bengkulu Utara.

Forum yang menjadi tradisi intelektual khas Nahdlatul Ulama ini dihadiri Rais Syuriah PWNU Provinsi Bengkulu KH Hasbullah Achmad, Katib Syuriah PWNU Provinsi Bengkulu KH Aly Shodiq, jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten dan kota se-Bengkulu, para ulama, akademisi, serta delegasi pondok pesantren dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu.

Bahtsul Masail merupakan forum musyawarah keagamaan yang menggunakan metodologi istinbath hukum Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan berpedoman pada Al-Qur’an, hadis, ijma’, qiyas, serta kitab-kitab turats yang menjadi rujukan para ulama. Melalui forum ini, para peserta berupaya menghadirkan jawaban hukum yang relevan terhadap berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi masyarakat.

Pada pelaksanaan Bahtsul Masail Wilayah ke-IV kali ini, pembahasan difokuskan pada persoalan zakat kelapa sawit dan zakat untuk pendidikan. Kedua isu tersebut dinilai sangat penting karena berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Bengkulu yang sebagian besar bergantung pada sektor perkebunan.

Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar, Bengkulu menghadapi berbagai pertanyaan dari masyarakat mengenai mekanisme dan ketentuan zakat hasil perkebunan sawit. Selain itu, pemanfaatan dana zakat untuk sektor pendidikan juga menjadi perhatian karena menyangkut peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.

Dalam arahannya, Rais Syuriah PWNU Bengkulu KH Hasbullah Achmad menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan pilar penting dalam menjaga tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.

“Bahtsul Masail adalah bentuk tafaqquh fiddin dan jantung keilmuan Nahdlatul Ulama yang tidak boleh redup. Melalui forum ini, para ulama dan santri dilatih untuk berpikir kritis, mendalami khazanah keilmuan Islam, sekaligus menghadirkan solusi yang dapat menjawab kebutuhan umat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Provinsi Bengkulu, Kiai Syamsul Maarif, M.Ag, menjelaskan bahwa penyelenggaraan BMW ke-IV merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi intelektual pesantren sekaligus memperkuat peran ulama dalam memberikan panduan keagamaan kepada masyarakat.

Menurutnya, perkembangan zaman yang semakin cepat melahirkan berbagai persoalan baru yang membutuhkan kajian mendalam dari perspektif hukum Islam. Oleh karena itu, forum Bahtsul Masail menjadi sangat penting untuk memastikan setiap keputusan hukum yang dihasilkan memiliki dasar yang kuat, argumentatif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun syar’i.

“Bahtsul Masail bukan sekadar forum diskusi, tetapi merupakan ikhtiar kolektif para ulama dalam menghadirkan jawaban keagamaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan kebutuhan masyarakat. Setiap persoalan dibahas secara mendalam melalui telaah kitab-kitab mu’tabarah, diskusi ilmiah, dan pertimbangan kondisi sosial yang berkembang di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tema zakat sawit dan zakat pendidikan dipilih karena merupakan persoalan yang sering ditanyakan masyarakat dan memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial-ekonomi umat.

“Bengkulu memiliki potensi perkebunan kelapa sawit yang sangat besar. Karena itu diperlukan kejelasan hukum agar masyarakat memiliki pedoman yang benar dalam menunaikan kewajiban zakat. Demikian pula persoalan zakat untuk pendidikan yang menjadi kebutuhan penting dalam meningkatkan kualitas generasi bangsa,” tambahnya.

Kegiatan Bahtsul Masail Wilayah ke-IV berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan semangat keilmuan. Para peserta aktif menyampaikan pandangan, argumentasi, serta referensi dari berbagai kitab klasik maupun kajian kontemporer guna memperkaya proses musyawarah.

Melalui forum ini, PWNU Bengkulu kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi intelektual pesantren, memperkuat budaya musyawarah ilmiah, serta menghadirkan solusi keagamaan yang moderat, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Hasil pembahasan yang dirumuskan diharapkan dapat menjadi pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas dalam menghadapi berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang di era modern.

Facebook comments